Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Kamis, 30 Agustus 2012

Penari Mungil

Bertahun-tahun sudah penari-penari itu tidak melakukan apa yang biasa ia lakukan. Menari. Masih tergambar jelas bagaimana perasaan maupun kegembiraan yang terpancar dari diri mereka saat penari mungil menari-nari di atas panggung alfabet yang senantiasa tersenyum menanti kapan saatnya ia merasakan kelembutan sentuhan tarian itu. Tawa, sedih, gugup terlihat jelas oleh layar kehidupan yang hanya bisa diam dan tak terucap. ia hanya menyaksikan bagaimana tarian itu berlangsung. Rasa kerinduan akan hal itu lama tak terjawab. Sunyi.

Cahaya sang dewata telah menghangatkan pikiran-pikiran hampa itu. Penari mungil itu kini mulai berlatih mengingat tariannya yang entah kemana perginya berayun-ayun, kesana-kemari menghiasi panggung hitam lusuh itu. Tak ada dekorasi. Polos. Tak ada yang bisa menghentikan mereka. Mereka habiskan waktu untuk berlatih. Llama sekali mereka berlatih. Semua orang meremehkannya. Namun angin tak henti-hentinya berhembus. Begitulah takad dan semangat mereka.

Kereta tua terus melaju meninggalkan stasiun tua itu. Mereka kini telah memasuki dunia baru. Semua hal baru. Tarian-tarian baru telah berhasil mereka persembahkan. Konyol. tapi mereka tetep senang dengan usaha itu. Terus berlatih dan terus belajar.

Semua telah berubah, kini banyak waktu mereka habiskan untuk membuat orang lain tersenyum. Tarian-tarian yang dulu menjadi hinaan kini telah mendapatkan tempat di hati penontonnya. Semua jerih payahnya kini berbuah. Panggung mewah kini menjadi sahabat barunya. Panggung dengan dekorasi mewah, lampu-lampu warni-warni menghiasi langit-langit panggung itu. Perasaan bahagia pun satu persatu mewarnai hati para penari mungil itu. Selamanya ia akan menari di panggung itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar